TATA NILAI PERAWAT CARE, EMPATI DAN ALTRUISME

Kata care/caring, empati dan altruisme pasti sudah menjadi kata yang tak asing lagi bagi perawat maupun mahasiswa keperawatan. Karena seorang perawat harus menerapkan ketiga kata tersebut dalam memberikan asuhan keperawatan pada klien/pasien. Ketiga kata tersebut terlihat sangat simple, namun memiliki makna yang sangat mendalam. Berikut penjelasan mengenai ketiga kata tersebut.

Pengertian Caring Perawat

Image

Caring merupakan pengetahuan manusia, inti dari praktik keperawatan yang bersifat etik dan filosofikal (Marriner dan Tomey dalam Dwidiyanti, 2007).

Caring bukan semata-mata perilaku, caring adalah cara yang memiliki makna dan memotivasi tindakan. Caring ini juga diartikan sebagai tindakan yang bertujuan memberikan asuhan fisik dan memperhatikan emosi sambil meningkatkan rasa aman dan keselamatan klien (Carruth, at all dalam Dwidiyanti, 2007).

Dyidiyanti (2007) selanjutnya menyatakan bahwa caring merupakan manifestasi dari perhatian kepada orang lain, berpusat pada orang, menghormati harga diri dan kemanusiaan, komitmen untuk mencegah terjadinya suatu yang memburuk, memberi perhatian dan konsen, menghormati kepada orang lain dan kehidupan manusia, cinta dan ikatan, otoritas dan keberadaan, selalu bersama, empati, pengetahuan, penghargaan dan menyenangkan.

Morrison dan Burnard (2009) menggambarkan caring sebagai suatu proses yang memberikan kesempatan kepada seseorang (baik pemberi asuhan (carrer) maupun penerima asuhan) untuk pertumbuhan pribadi, yang didukung dengan aspek-aspek pengetahuan, penggantian irama, kesabaran, kejujuran, rasa percaya, kerendahan hati, harapan dan keberanian.

Watson dalam Dwidiyanti (2007) menyebutkan terdapat tujuh asumsi yang mendasari konsep caring, yaitu :

  1. Caring hanya akan efektif bila diperlihatkan dan dipraktikkan secara interpersonal
  2.  Caring terdiri dari faktor karatif yang berasal dari kepuasan dalam membantu memenuhi kebutuhan manusia atau klien.
  3. Caring yang efektif akan dapat meningkatkan kesehatan individu dan keluarga.
  4. Caring merupakan respon yang diterima oleh seseorang tidak hanya saat itu saja namun juga mempengaruhi akan seperti apakah seseorang tersebut nantinya.
  5. Lingkungan yang penuh caring sangat potensial untuk mendukung perkembangan seseorang dan mempengaruhi seseorang dalam memilih tindakan yang terbaik untuk dirinya sendiri.
  6. Caring lebih kompleks daripada curing, praktik caring memadukan antara pengetahuan biofisik dengan pengetahuan mengenai perilaku manusia yang berguna dalam peningkatan derajat kesehatan dan membantu klien yang sakit.
  7. Caring merupakan inti dari keperawatan.

Kasus Caring

Dulu kakek saya masuk rumah sakit untuk operasi di bagian anus. Sebagai seorang cucu, saya mencoba merawat kakek saya dan menemani dia saat dirumah sakit. Dalam merawat sang kakek, saya ditemani nenek serta bibi saya yang kebetulan seumuran dengan saya. Kita mencoba memberikan asuhan keperawatan yang baik untuk sang kakek yang sedang sakit tersebut. Seperti memberi makan, minum, serta membersihkan tempat tidurnya dari kotoran, karena ia tidak bisa bangun dari tidurnya yang diakibatkan oleh sakit di bagian anusnya

 Empati

 Image

Empati telah diterima secara luas sebagai komponen klinis dalam hubungan yang membantu. Definisi empati merefleksikan pengaruh psikoterapis Carl Rogers, yang terkenal karena hasil karyanya dalam mengidentifikasi dan mendeskripsikan karakteristik hubungan yang membantu. Empati adalah kemampuan untuk mencoba memahami dan memasuki kerangka referensi klien (Haber et al,1994). Empati adalah merasakan, memahami dan membagi kerangka referensi klien, dimulai dengan masalah yang dihadapi klien. Sangat adil, sensitif dan objektif untuk melihat pengalaman yang dimiliki orang lain. Definisi lain menyatakan bahwa empati adalah kemampuan untuk memahami dan menerima realita seseorang, merasakan perasaan dengan tepat dan mengomunikasikan pengertian kepada pihak lain. Balzer Riley (2004) menyatakan, “ Saat klien atau sejawat sedang terluka, bingung, bermasalah, gelisah, merasa diasingkan, takut ragu atau tidak pasti akan identitasnya, maka dibutuhkan pengertian.” Untuk mengekspresikan empati, perawat memperlihatkan pengertian atas kepentingan pesan berdasarkan tingkat perasaan.

Empati membantu klien untuk menjelaskan dan mengkaji perasaan mereka sehingga pemecahan masalah dapat terjadi. Untuk mengembangkan empati dalam suatu hubungan, tentu membutuhkan waktu. Perawat tidak dapat secara otomatis memahami perasaan atau pengalaman klien. Oleh karena itu, empati merupakan tujuan yang penting, kunci untuk menyelesaikan masalah, dan mendukung komunikasi.

Kasus Empati

Waktu itu, ada seorang teman saya bercerita mengenai kelurganya. Sebut saja ia si X. si X bercerita pada saya bahwa ayahnya yang menjadi seorang guru ternyata bermain hati dengan rekan kerjanya yang seprofesi dengannya. Dia bercerita sambil menangis, karena dia sangat kecewa terhadap ayahnya dan merasa kasihan terhadap sang ibu karena telah di khianati cintanya oleh sang ayah. Saya mencoba menenangkan dia saat dia menangis dan mengusap bahunya agar ia merasa tenang. Saya juga memberi solusi agar dia bicara baik-baik dengan cewenya untuk tidak menaggapi ayahnya yang merasa kasmaran dengan cewe tersebut.

 Altruisme (Mengutamakan Orang Lain)

 

 Image

 Altruisme adalah kata yang berasal dari bahasa Latin alteri huic yang berarti “untuk orang lain” dan definisi harfiahnya adalah “ untuk mengekspresikan penghargaan pada orang lain sebagai sebuah prinsip dalam melakukan tindakan” (Oxpord English Dictionary). Tindakan merawat mewakili sebuah perpaduan dari banyak faktor intrinsik dan ekstrinsik yang memastikan individu untuk menerima tanggung jawab untuk orang lain. Kesediaan memperhatikan kesejahteraan orang lain termasuk keperawatan, komitmen, arahan, kedermawanan atau kemurahan hati serta ketekunan. Pada nilai ini sikap perawat yang lebih mengutamakan orang lain, daripada keperluannya sendiri yaitu lebih mengutamakan kewajibannya dari pada hak.

Dalam teori psikologi masih terus berlangsung debat tentang faktor-faktor yang memotivasi dibalik tingkah laku altruistik. Penelitian Davis (1983) menyatakan sebuah korelasi langsung antara sejumlah respon manusia yang lumrah terhadap tingkahlaku altruistic. Respon ini termasuk ekspresi simpati (perhatian umum pada orang lain), empati (memahami situasi orang lain), dan tanggung jawab sosial (contohnya hubungan kekeluargaan dalam keluarga). Eksperimen yang hampir sama telah menunjukkan perpaduan dua faktor tersebut (Eisenberg 1989, Batson et al 1986, Krebs 1975).

1)      Faktor pertama menyatakan bahwa individu mempunyai beberapa bentuk yang menggerakkan mekanisme secara internal. Respon yang di gerakkan awalnya di perintah oleh sifat dasar tingkah laku yang dinyatakan, lingkungan sosial dan kemudian penyesuaian diri bersama terhadap individu. Contoh: Jika seseorang datang pada seseorang yang tenggelam, pada keadaan tertentu ia mungkin akan berusaha memberikan pertolongan. Namun sebaliknya, jika orang yang sama mempunyai anggota keluarga yang membutuhkan perawatan pribadi dan perhatian, pada situasi ini, karena alasan budaya atau stereotip gender, ia mungkin memutuskan untuk tidak menolong.

2)      Faktor kedua berdasarkan dasar pemikiran bahwa beberapa orang mempunyai karakteristik kepribadian altruistik, dihubungkan dengan nilai dan norma yang telah diinternalisasikan sebelumnya yang biasanya berdasarkan pada pengalaman sebelumnya dalam menyediakan pertolongan dan berdasarkan perkembangan penghargaan terhadap kebutuhan orang lain. Ciri ini diaktifkan oleh situasi yang memberi isyarat yang hampir sama dengan mekanisme penggerak yang sudah digambarkan sebelumnya.

Batson (1986) memperdebatkan bahwa saat dua faktor ini diaktifkan secara terus-menerus maka mereka mendorong sebuah tindakan altruistik.

Kasus Altruisme

Saat sedang berekreasi ke suatu tempat, apalagi tempat renang pasti kita sering berebut kamar mandi. Pengalaman saya demikian, namun pada waktu itu saya sedang mengantri di suatu kamar mandi untuk membersihkan badan karena habis berenang. Saat saya akan masuk kamar mandi tersebut, ternyata datang seorang ibu yang membawa anaknya yang sudah buang air besar di celananya. Ibu tersebut meminta pada saya agar dia yang masuk duluan ke kamar mandi tersebut. Saya pun mempersilahkan ibu itu untuk mengingat kondisi anaknya yang sudah belepotan dengan kotoran.

Sumber

http://digilib.unimus.ac.id/files/disk1/122/jtptunimus-gdl-sigitcahyo-6094-2-babiir-2.pdf [10:13]

Potter & Perry.1999.”Fundamental Keperawatan”.Buku Kedokteran EGC:Jakarta

Basford lynn dan Oliver slevin.2006.”Teori dan Praktik Keperawatan.Jakarta:EGC